ong39da.id – Banjir bandang dan longsor Bali NTT pada awal September 2025 menyoroti kelemahan infrastruktur dan regulasi mitigasi bencana. Kehancuran jalan, jembatan, dan saluran air memperburuk dampak banjir, sementara kebijakan pengelolaan lahan dan drainase belum optimal.
Kondisi Infrastruktur yang Rentan
Di Bali, banyak sungai dan saluran air mengalami penyumbatan akibat sampah dan sedimentasi. Drainase di kota besar seperti Denpasar gagal menyalurkan limpasan hujan ekstrem, sehingga air tergenang lama. Di NTT, jalan antar desa sering tidak dirancang untuk menerima beban air besar dari lereng dan hulu, sehingga longsor mudah terjadi dan akses darurat terhambat.
Rencana jangka panjang & teknologi pendukung
-
Pembangunan sistem drainase modern dan box culvert di jalan utama yang bisa menyalurkan debit air cepat.
-
Revitalisasi sungai dengan normalisasi dan kolam resapan air hujan (retention pond) untuk menahan limpasan air hujan.
-
Pemasangan sensor debit air dan sistem peringatan dini berbasis telekomunikasi dan aplikasi mobile agar masyarakat bisa cepat evakuasi.
Tindak Lanjut Pemerintah & Partisipasi Masyarakat
Pemerintah pusat bersama pemerintah daerah harus menyediakan anggaran tetap untuk perawatan saluran air dan pengelolaan hulu. DPRD dan pemda dapat membuat forum publik untuk melibatkan warga dalam keputusan zonasi dan pengelolaan lingkungan. Masyarakat sendiri bisa berkontribusi lewat menjaga sampah, menjaga vegetasi sekitar rumah, dan ikut program penanaman kembali pohon di lereng.






